Sabtu, 10 Desember 2016

tujuh tahun persahabatan kami

Siapa yang saya maksud dengan ‘kami’?? kalian yang tidak mengenal saya tentu bertanya lingkaran persahabatan yang mana yang saya maksud. Atau kalian sudah mengenal saya dan masih bertanya-tanya. Yang saya maksud ‘kami’ disini adalah para kawan-kawan sekelas masa sekolah putih abu-abu. Meski masa putih abu-abu kami telah berakhir namun tidak dengan persahabatannya, kini kami telah bersahabat selama lebih tujuh tahun, yang menurut seorang psicolog yang mengatakan jika suatu persahabatan telah terjalin selama tujuh tahun maka akan bertahan selamanya, *amin*
. Pasca tamat kami masih sering berkumpul, atau paling tidak berkomumikasi via social media yang makin beragam. Tiap tahun, seolah ada ikatan yang membuat kami harus berkumpul untuk silaturahmi, khususnya sehabis lebaran karena pada moment itulah mereka yang berada di luar soppeng kembali ke kampung. Kadang timbul pertanyaan di benak ‘kenapa saya harus hadir?’ dan jawabannya hanya kami yang tau. *pokoknya saya harus hadir*.
screenshot foto smk

Sebenarnya saya lupa bahwa persahabatan ini telah mencapai angka tujuh tahun, hingga seorang teman men-share –memanfaatkan fitur shared memory pada facebook--  sebuah foto masa putih abu-abu dengan caption “best friends forever” dan seorang kawan berkomentar “wah sudah tujuh tahun yah” . saya kemudian ikut berkomentar dengan sebuah quote dalam bentuk gambar yang bunya telah saya sebutkan di atas “menurut seorang psicolog, jika persahabatan telah terjalin selama tujuh tahun, maka akan bertahan selamanya”. Awetnya persahabatan ini bukannya tanpa perselisihan, saya masih ingat ketika kelas XI, kita yang terkenal kompak seantero sekolah terpecah menjadi dua kubu, saya lupa apa masalah itu hari yang membuat kami terpecah namun perpecahan hanya berlangsung kurang lebih dua minggu dan kami kembali kompak.
ce wek-cewek sekelas

Saat teman men-share foto tersebut, pikiran saya melayang ke tiga tahun pertama persahabtan kami atau masa putih abu-abu. Beragam memori kembali bangkit, kekonyolan, kenakalan dan sebagainya. Satu hal yang membuat saya tersenyum sendiri, sebuah kisah teman pada awal-awal perkenalan kami. bagi Kami ini lucu, namun bagi mereka berdua mungkin itu memalukan. Pikiran saya mengenang berbagai hal, misalnya jika kami berada di kantin, kami seolah sok berkuasa, paling ribut dan seseorang yang membawa uang saku pas-pasan suka memalak pentolan atau bakwan teman satu per satu dengan jargon “hemaaat”. Meskipun ruang kelas kami merupakan yang paling jauh dari ruang guru namun suara keributan paling jelas terdengar di ruang hingga ke ruang guru. Seorang teman lagi yang sangat hobby pada sepak bola dan memiliki skil dibawah rata-rata, dia kalau datang ke sekolah, kalau tidak kesiangan , dia akan datang paling awal. Jika ditanya ‘kenapa telat?’ alasannya pasti tentang bola –kalau bukan begadang nonton bola, dia melihat berita olaraga di salah satu chanel nasional—kalau datang paling awal alasanya pun hampir sama, --datang ke sekolah lebih awal dan menonton berita olaraga di tv ruang guru, sekaligus mengambil Koran terbaru, lucunya dia hanya mengambil bagian berita olaraga--. Lain lagi teman yang satu ini, jika jam pelajaran kosong atau guru tidak sempat mengajar, dia akan tidur pulas di bangku paling belakang atau menggambar anime di sampul belakang bukunya. Lain kepala lain prilaku, kawan yang satu ini, meski dia cukup tempramen, --hampir setiap kelas pernah berselisih dengannya—ternyata dia paling jago soal wanita. Jika tiap kelas dia pernah berselisih, tiap kelas juga dia punya pacar atau mantan.
pejantan tangguh
 para pejantan tangguh.

***
Pergeseran waktu memang tak bisa dihentikan, meski bateray jam dinding telah kehabisan daya. Tak terasa kini kami telah bersahabat selama lebih tujuh tahun –terhitung tiga tahun masa putih abu-abu--. Sudah ada yang melaju jauh menggapai mimpi, mencapai gelar S1 misalnya. Ada yang memilih meneruskan studynya bergelut dengan angka (red:jurusan akuntansi) ada yang mengikuti passion kepemimpinan dengan kuliah manajemen. Atau mencari dan mencoba hal baru di bangku kuliah dengan memilih jurusan informatika. Ada juga memilih menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dengan kuliah pendidikan guru, Sisanya memilih kerja walau dengan modal ijasah SMK. Oh iya ada juga yang kuliah di parenting di kehidupan nyata dengan mendapatkan jodohnya lebih awal.
Mereka yang telah menikah bahkan ada yang sudah memiliki dua orang anak dan yang satunya menunggu kelahiran anak pertama.
Mereka yang telah menikah --seolah ingin mengikuti urutan daftar nama saat sekolah--:
1.       Ayusfita
2.       Eka fitriani
3.       Eka fitrianti
4.       
5.       Entah siapa lagi yang akan mengisi pos ke empat dan seterusnya, apakah betul-betul berurutan sesuai dengan daftar nama atau bagaimana, biarlah itu menjadi rahasia tuhan.


Lantas bagaimana dengan cowok-cowoknya, apakah sudah ada yang menemukan jodohnya? Jawabannya belum. Mereka masih tertatih-tatih dalam mengumpulkan uang panai *mahar* --sebenarnya bukan mahar, --silahkan googling untuk mencari penjelasannya--. Kalian tau sendiri kan mahar gadis bugis sungguh memaksa lelaki bugis bekerja keras. Kalau belum tau, Silahkan googling dengan keyword mahar tertinggi di Indonesia, dan anda akan dapatkan gadis bugis di posisi teratas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar