Rabu, 14 September 2016

tentang nama


Setiap orang tua memberi nama kepada anaknya disertai doa, harapan dan sarat makna namun lingkaran pertemanan memanggil seenak udel.
.
Waktu sekolah ada empat orang teman sekelas saya nama depannya sama yaitu EKA, kalau dipanggil mereka serempak menoleh. Akhirnya, teman-teman sepakat untuk mengganti atau memplesetkan nama mereka. Eka yang pertama postur tubuhnya paling pendek diantara keempatnya, jadi di beri nama epen. Eka yang kedua nama depan dan belakang digabung. Eka yang ketiga sudah punya nickname sendiri. Eka yang keempat menolak karena dia percaya bahwa nama punya arti.
.
Nama yang kami sematkan hanya populer di kalangan sekolah dan terbawa hingga kini. Saat eka yang ketiga yang kami beri nama evi menikah, saya bicara dengan adeknya dengan menyebut nama EVI, alhasil adeknya melongo kebingungan karena dia mengenal kakaknya dengan nama eka.
.
Pernah juga saat masih Smp, seorang kakak kelas saya bernama jumardi. Saya menyapanya sekedar basa basi dengan menyebut namanya, dia marah karena mengira saya mengolok-oloknya. Rupanya, dia dengar saya memanggilnya dengan jumaldin. Hanya beda satu huruf itupun hanya karena sayanya yang cadel akut.
.
Masih tentang nama, terkadang ada kenangan, cinta dan air mata. #eh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar